Menu Click to open Menus
Home » Provinsi DIY » Asia Competitiveness Institute Merekomendasikan Peningkatan Diklat bagi Karyawan Dunia Usaha

Asia Competitiveness Institute Merekomendasikan Peningkatan Diklat bagi Karyawan Dunia Usaha

(703 Views) November 5, 2019 12:23 pm | Published by | Komentar Dinonaktifkan pada Asia Competitiveness Institute Merekomendasikan Peningkatan Diklat bagi Karyawan Dunia Usaha

Asia Competitiveness sebuah lembaga di bawah Lee Kuan Yew School of Pulic PAnalisis daya saing provinsi-provinsi di Indonesia : Temuan Awal dari Hasil Studi Asia Competitiveness Institute

Asia Competitiveness sebuah lembaga di bawah Lee Kuan Yew School of Pulic Policy National University of Singapore setiap tahun melakukan riset di negara Asia termasuk Indonesia mengenai daya saing. Riset yang dilakukan di beberapa propinsi di Indonesia ini antara lain bertujuan untuk mengikuti daya saing di seluruh propinsi Indonesia utuk membantu merumuskan strategi pembangunan yang tepat. ACI melihat bahwa kebanyaka penelitian tentang daya saing ada di level negara. Padahal negara besar seperti Indonesia perlu analisis di tingkat yang lebih detil. Kita tahu bahwa da 34 propinsi di Indonesia dengan rentang geografis yang sangat luas. Tentu berakibat pada persebaran sumber daya alam dan manusia yang sangat beragam.

Survey daya saing yang dilakukan tiap tahun ini juga sebagai cara untuk menyebarluaskan hasil penelitian tahun sebelumnya kepada komunitas internasional dan nasional serta eningkatkan kolaborasi dengan mitra strategis untuk meningkatkan daya saing Indonesia.
Tujuan lainnya adalah untuk menggairahkan suasana persaingan yang sehat antar wilayah dan propinsi di Asia khususnya Indonesia.
Metode penelitian ACI didasarkan pada paradigma bahwa daya saing dipengaruhi oleh 4 lingkungan yaitu Kualitas hidup dan pembangunan infstrastruktur, stabilitas ekonomi makro, kondisi finansial, bisis dan tenaga kerja, dan pemerintahan dan institusi publik. Paradigma 4 lingkungan ini kemudian dijabarkan lagi dalam poin-poin yang berjumlah total 105 indikator. Indikator ini kemudian dirumuskan menjadi pertanyaan yang akan diajukan kepada responden.
Bagaianakah potret DIY menurut survey ACI ini di tahun 2019? Inilah hasil penelitian daya saing DIY. DIY menempati peringkat keenam dari 34 propinsi di Indonesia hasil ini meningkat dari tahun 2016, 2017, 2018. Peringkat 1,2,3 ditempati oleh DKI Jakarta, Jatim, Jabar.
Dilihat dari stabilitas ekonomi makro DIY menempati rangkin 21 naik 2 tingkat dari tahun 2018 yaitu peringkat 23. Secara umum DIY berada di peringkat ke-6 dalam Daya saing keseluruhan, stabil dari tahun sebelumnya. Penurunan peringkat dalam lingkup kualitas hidup dan pembangunan infrastruktur namun naik dalam ligkup kondisi finansial bisnis dan tenaga kerja, stabilitas ekonomi makro dan pemerintahan dan institusi publik.
Menurut survey tersebut DIY memiliki kekuatan dalam hal pendidikan dan akses infstrastruktur. Hal ini cukup bisa dimengerti karena di DIY berdiri ratusan institusi pendidikan tinggi yang berkualitas. Kekuatan lain dalam hal dunia usaha dan tenaga kerja. Dalam hal tenaga kerja ini mungkin berkaitan dengan UMP yang cukup rendah sehingga menarik dunia usaha. Namun ternyata masih memiliki kelemahan dalam hal produkvitas. Sehingga ACI merekomendasikan peningkatan pelatihan produkvitas bagi dunia usaha. Rekomendasi yang lain adalah peningkatan sinergi pendidikan dengan sektor-sektor usaha produktif.

olicy National University of Singapore setiap tahun melakukan riset di negara Asia termasuk Indonesia mengenai daya saing. Riset yang dilakukan di beberapa propinsi di Indonesia ini antara lain bertujuan untuk mengikuti daya saing di seluruh propinsi Indonesia utuk membantu merumuskan strategi pembangunan yang tepat. ACI melihat bahwa kebanyaka penelitian tentang daya saing ada di level negara. Padahal negara besar seperti Indonesia perlu analisis di tingkat yang lebih detil. Kita tahu bahwa da 34 propinsi di Indonesia dengan rentang geografis yang sangat luas. Tentu berakibat pada persebaran sumber daya alam dan manusia yang sangat beragam.
Survey daya saing yang dilakukan tiap tahun ini juga sebagai cara untuk menyebarluaskan hasil penelitian tahun sebelumnya kepada komunitas internasional dan nasional serta eningkatkan kolaborasi dengan mitra strategis untuk meningkatkan daya saing Indonesia.
Tujuan lainnya adalah untuk menggairahkan suasana persaingan yang sehat antar wilayah dan propinsi di Asia khususnya Indonesia.
Metode penelitian ACI didasarkan pada paradigma bahwa daya saing dipengaruhi oleh 4 lingkungan yaitu Kualitas hidup dan pembangunan infstrastruktur, stabilitas ekonomi makro, kondisi finansial, bisis dan tenaga kerja, dan pemerintahan dan institusi publik. Paradigma 4 lingkungan ini kemudian dijabarkan lagi dalam poin-poin yang berjumlah total 105 indikator. Indikator ini kemudian dirumuskan menjadi pertanyaan yang akan diajukan kepada responden.
Bagaianakah potret DIY menurut survey ACI ini di tahun 2019? Inilah hasil penelitian daya saing DIY. DIY menempati peringkat keenam dari 34 propinsi di Indonesia hasil ini meningkat dari tahun 2016, 2017, 2018. Peringkat 1,2,3 ditempati oleh DKI Jakarta, Jatim, Jabar.
Dilihat dari stabilitas ekonomi makro DIY menempati rangkin 21 naik 2 tingkat dari tahun 2018 yaitu peringkat 23. Secara umum DIY berada di peringkat ke-6 dalam Daya saing keseluruhan, stabil dari tahun sebelumnya. Penurunan peringkat dalam lingkup kualitas hidup dan pembangunan infrastruktur namun naik dalam ligkup kondisi finansial bisnis dan tenaga kerja, stabilitas ekonomi makro dan pemerintahan dan institusi publik.
Menurut survey tersebut DIY memiliki kekuatan dalam hal pendidikan dan akses infstrastruktur. Hal ini cukup bisa dimengerti karena di DIY berdiri ratusan institusi pendidikan tinggi yang berkualitas. Kekuatan lain dalam hal dunia usaha dan tenaga kerja. Dalam hal tenaga kerja ini mungkin berkaitan dengan UMP yang cukup rendah sehingga menarik dunia usaha. Namun ternyata masih memiliki kelemahan dalam hal produkvitas. Sehingga ACI merekomendasikan peningkatan pelatihan produkvitas bagi dunia usaha. Rekomendasi yang lain adalah peningkatan sinergi pendidikan dengan sektor-sektor usaha produktif.

Categorised in: