Menu Click to open Menus
Home » Gunung Kidul » KISAH KIMPUL DAN EKONOMI YANG TIMPANG

KISAH KIMPUL DAN EKONOMI YANG TIMPANG

(427 Views) Agustus 21, 2017 1:07 am | Published by | Komentar Dinonaktifkan pada KISAH KIMPUL DAN EKONOMI YANG TIMPANG

Oleh : Afnan Harifi

Pagi tadi, saya berkesempatan membantu rekan-rekan institusi jasa keuangan untuk memotret ketimpangan ekonomi di salah satu kawasan wisata di Bukit Menoreh, kali ini di Puncak Suroloyo. Perlu diketahui rasio gini DIY termasuk tertinggi di Indonesia.

Saya sebenarnya sudah berkali-kali ke kawasan ini karena hubungan saya dengan petani-petani kopi di daerah ini. Selain pak Rohmat, ada mbak Mar dan mas Win. Nama terakhir ini adalah anak muda milenial yang ingin berkarya dari desanya dengan kopi.

Warung Kopi mas Win pagi ini ranai sekali pengunjung dari orang-orang yang “berduit”. Setelah selesai urusan, saya pun pamit pulang dan mau membayar 3 kopi espresso dan 6 bungkus kopi bubuk untuk oleh-oleh. Mas Win menolaknya.

“Udah mas, bawa saja!” katanya sambil menyingkirkan tangan saya.
“Eh, jangan!” sahutku. Kali ini mas Win menerimanya.

Saya pun turun pulang bersama dua rekan dengan mobil bak terbuka menuju Yogya. Tak disangka-sangka mobil kami kehabisan solar di tengah2 perjalanan tepat di depan rumah penduduk di tengah kebun cengkeh yang di selanya ditanam Kimpul, umbi2an yang sangat kaya manfaat.

Saya berinisiatif meminjam sepeda motor untuk membeli solar, yang dijawab dengan tawaran bantuan dari seorang bapak untuk membelikan solar di SPBU berjarak 15 km. ”

Alhamdulillah,” ucapku dalam hati. “Lima liter, ya Pak!” Si Bapak kemudian pergi dengan motornya.

Sambil menunggu solar, kami mencari alat untuk menuang solar dan menemukan pelepah daun kimpul. Di bawahnya menyembul umbi kimpul yang menarik kami untuk bertanya ke bapak tua yang kebetulan lewat.

“Menawi kerso, kulo gadhah, Mas!” sambil mengajak ke rumahnya yang berjarak 200an meter dari lokasi mobil kami. Rumah sederhana dengan lantai ubin.

“Saya beli 10kg, ya Pak. Berapa?” tanyaku.
“Sepuluh ribu, mas!” sahutnya.

“Masya Allah,” gumamku. Kuulurkan uang lima puluh ribu dengan pembanding harga gabah yang dibeli Maknyuss 4.900 per kg. Bapak itu menolaknya.

“Sampun mas, sedoso ewu mawon sampun cekap kagem mundut sarem.”

Gubrak, pikiranku langsung menerawang jauh ke Suroloyo di Khayangan negeri di atas awan.

Uang tadi langsung kuganti dengan selembar sepuluh ribuan, lalu kami menuju ke mobil kembali.

Tak lama kemudian bapak yang beli solar tadi kembali dan saya menuangkannya dengan pelepah kimpul. Mobil menyala dan kami pun pamit.

” Pak, meniko kagem gantos bensin, mundut uwos kaliyan sarem.” Kali ini bapak ini menerima dengan senang.

Pikirku, kalau orang punya sikap hidup kaya gini, indikator ekonomi secanggih apapun tidak berlaku di khayangan.

Catatan:
Karena iklim, tahun ini warga menggantungkan pada umbi-umbian. Cengkeh tidak berbunga apalagi durian Menoreh yang terkenal legitnya itu.

Tags: , ,
Categorised in: ,