Menu Click to open Menus
Home » Gunung Kidul » DAMPAK KENAIKAN BBM BERSUBSIDI BAGI DUNIA USAHA DI DIY

DAMPAK KENAIKAN BBM BERSUBSIDI BAGI DUNIA USAHA DI DIY

(564 Views) Juli 31, 2013 12:59 am | Published by | Komentar Dinonaktifkan pada DAMPAK KENAIKAN BBM BERSUBSIDI BAGI DUNIA USAHA DI DIY

Penulis : A.Heru Tricahyanto

Pemerintah sudah  menaikkan harga BBM bersubsidi  pada bulan Juni yang lalu. Keputusan tersebut melalui tarik ulur yang panjang antara pemerintah dan DPR dan pembahasan yang berlarut-larut. Sehingga sebelum BBM bersubsidi dinaikkan pun sudah terjadi ketidakpastian pasar yang direspon dengan kenaikan harga dan berbagai pelanggaran dalam bentuk penggelapan BBM bersubsidi.

Kenaikan BBM bersubsidi adalah keniscayaan, hal yang tidak  bisa dihindari walaupun pahit dampaknya. Hal ini dari sisi anggaran adalah untuk menjaga keberlanjutan APBN 2013. Tanpa kenaikan harga BBM bersubsidi, maka beban subsidi akan membengkak dan tidak seimbang dengan belanja lainnya. Seperti dikatakanoleh Wakil Menteri Keuangan, Mahendra Siregar bahwa  kenaikan harga BBM bersubsidi akan mengurangi kecepatan pertumbuhan konsumsi yang pada akhirnya menekan impor hasil minyak.

Argumen lain yang disampaikan pemerintah adalah harga BBM di dalam negeri terlalu murah dibandingkan dengan negara Asean lainnya.

 

Harga BBM tertinggi adalah di Thailand (Rp.16.100), diikuti Singapura (Rp.13.600), Laos (Rp. 11.000), Kamboja (Rp.10.000), Filipina (Rp. 9800), Vietnam (Rp. 7700), Malaysia (Rp. 7100), Myanmar (Rp.7000), Brunei (Rp. 5200). Setelah BBM dinaikan ke 6500 Indonesia masih termasuk di posisi terendah di atas Brunei.

Satu sisi kenaikan BBM Bersubsidi akan menguntungkan neraca belanja pemerintah tetapi tentu saja kenaikan harga BBM akan mempengaruhi semua lini ekonomi di Indonesia. Bagi dunia usaha, kenaikan harga BBM memberikan dampak cukup besar terhadap biaya produksi barang dan jasa.

Kenaikan pertama kali dipicu oleh biaya tranportasi. Kenaikan BBM bersubsidi hampir 70% ini jelas akan membebani biaya transportasi.Biaya tranportasi akan langsung naik sehingga akan mempengaruhi biaya bahan baku yang juga akan turut mengalami kenaikan. Prosentasi kenaikan ini mencapai 30-50%.

Setelah menerima pukulan pertama akibat  kenaikan BBM ini perusahaan bakalan menerima pukulan lagi dari potensi kenaikan upah. Biaya hidup yang naik tentu karyawan akan menuntut kenaikan upah walaupun hal ini  baru akan terjadi tahun 2014, namun setidaknya kasak-kusuk di organisasi serikat buruh sudah dimulai sekarang.

Tekanan kenaikan BBM memang terasa di Kebutuhan Hidup Layak seperti yang disurvei oleh dewan pengupahan Kabupaten/Kota.

 

Gambar 1. Grafik KHL  bulan Januari sampai Juni di Kabupaten / Kota DIY tahun 2013

Berdasarkan gambar 1, grafik mengenai pencapaian KHL dari bulan  Januari sampai dengan Juni 2013 terlihat bahwa pada bulan Juni (angka 6) ada kecenderuntan kenaikan KHL. Pada saat survei bulan Juni tersebut harga BBM bersubsidi belum naik baru wacana. Tetapi pasar sudah mulai menaikkan harga barang kebutuhan sehari-hari.

Kenaikan KHL ini berakibat pada menurunkan daya beli masyarakat. Turunnya daya beli masyarakat mengakibatkan tidak terserapnya semua hasil produksi perusahaan, sehingga secara keseluruhan akan menurunkan penjualan yang pada akhirnya juga akan menurunkan laba perusahaan.

Solusi dan Strategi

Mau tidak mau perusaahaan dipaksa  memikirkan ulang strategi agar dapat bertahan. Pengamatan di salah satu industri mebel di Gunungkidul misalnya, strategi yang ditempuh oleh pengelola adalah mengurangi pekerja. Sementara permintaan pasar menurun maka ada pekerja di salah satu divisi yang diliburkan untuk mengurangi beban pengeluaran perusahaan. Strategi lain yaitu memperluas jangkauan pemasaran. Daya beli masyarakat yang menurun disiasati oleh perusahaan tersebut dengan  memfasilitasi penjualan secara kredit. Masyarakat tetap dapat membeli mebel untuk keperluan lebaran dengan  membayar uang muka saja, kekurangannya diangsur sekian kali.

Namun ditengah suasana yang lesu dan pesimis ini  Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia, Sofjan Wanandi, menilai kenaikan BBM akan menguntungkan dalam jangka panjang. Menurutnya, justru jika BBM tidak dinaikkan, sementara dana subsidi BBM diambil dari utang, dalam jangka panjang justru akan menyengsarakan. Dunia usaha dan masyarakat sama-sama rugi. Logika yang dipakai adalah dana subsidi akan banyak dipakai untuk membangun infrastruktur sehingga secara makro pertumbuhan ekonomi bisa meningkat. Di daerah-daerah pemasaran hasil industri dan pertanian banyak terkendala infrastruktur jalan yang sulit diakses. Sehingga pemasaranya membutuhkan biaya besar  dan akibatnya jangkauan pemasaran tidak bisa jauh. Sehingga produk lokal  pilihan pasarnya hanya itu-itu saja dan semakin lama akan jenuh.

Secara meyakinkan Sofian Wanandi mengatakan bahwa perbaikan infrastruktur pada akhirnya akan juga meningkatkan daya saing ekonomi sehingga pengusaha bisa lebih efisien untuk memangkas ongkos transportasi. Alhasil, dunia usaha makin efisien. Adapun, infrastruktur yang mendesak untuk diperbaiki selain pelabuhan dan jalan untuk melancarkan barang, juga perbaikan infrastruktur listrik, air, irigasi untuk para petani.

 

Referensi :

http://thepresidentpostindonesia.com

http://inspirasi-insinyur.com/infografis/portfolio/perbandingan-harga-bbm-di-asean

(diakses 27 Juli 2013)

 

 

Categorised in: