Menu Click to open Menus
Home » Provinsi DIY » Apakah benar daya beli turun atau ekonomi lesu? Ini Kata Rhenald Kazali

Apakah benar daya beli turun atau ekonomi lesu? Ini Kata Rhenald Kazali

(1119 Views) Juli 29, 2017 9:13 pm | Published by | Komentar Dinonaktifkan pada Apakah benar daya beli turun atau ekonomi lesu? Ini Kata Rhenald Kazali

Komentar dari Rhenald Kasali…

Saya kok ragu daya beli turun. Kajian yg kami lakukan pd dataran mikro menunjukkan uang sdg berpindah (shifting) dari kalangan menengah ke atas ke ekonomi rakyat. Dan para elit sekarang sedang sulit krn peran sbg “middleman” mereka pudar akibat disrutive innovation, lalu meneriakkan “daya beli turun”.

Sy cek di tiga titik:

1. JNE. Ini adalah jaringan logistik yg marketsharenya sdh di atas PT Pos dan nama perusahaannya disebut oleh semua bisnis online. Di JNE Sy dapat data pegawainya ditambah terus utk melayani pengambilan dan pengiriman logistik. Penambahan SDM bbrp bulan terakhir sd 500 orang.

Tak banyak orang yg tahu bhw konsumen dan pedagang beras di kalimantan kini lbh banyak membeli beras dan minyak goreng via tokopedia dari Surabaya, Lombok, Makasar dll. Juga tak banyak yg tahu bahwa angkutan kargo udara dari solo naik pesat utk pengiriman garmen dan barang2 kerajinan. Juga dari kota2 lainnya. Artinya usaha2 kecil dan kerakyatan mulai diuntungkan

2. Retailer. Aprindo melaporkan penjualan yg dicapai anggota aprindo semester 1 sales drop 20%. Ini mulai mengikuti pola angkutan taksi yg sdh turun skitar 30-40% tahun lalu. Apakah krn daya beli? Bukan, penyebabnya adalah shifting ke taxi online. Sama halnya retail dan hotel yg beralih dari konvensional ke online.

Artinya bukan daya beli drop, bukan juga krn keinginan membeli turun, melainkan terjadi shifting

3. Produsen besar FMCG. Hampir smua yg kami temui mengakui omset mereka naik 30/40%. Mulai dari tepung terigu kami cek ke Bogasari sd obat2an (consumer health) kaki cek ke Kalbe. Demandnya masih naik pesat. Tetapi produsen spt Gulaku mengaku drop krn kebijakan HET yg mulai dikontrol pemerintah.

Lalu siapa yg pendapatannya turun dan mengapa turun?
Jawabnya yg turun adalah grosir2 besar yg biasa membayar kepada produsen mundur 45 hari-3 bulan. Diantaranya adalah supermatket2 besar yg biasa “ngerjai” UMKM dgn menunda pembayaran. Kini dengan munculnya dunia online UMKM bisa langsung, maka supermatket besar kekurangan pasokan. Produsen besar juga menahan stoknya, lebih mengutamakan membuka jalur distribusi baru.

Berkat Tol laut kini para agen-agen penyalur FMCG yg berada di Lombok, NTT, Maluku, Sulawesi dll bisa dapat barang langsung dari produsen tanpa melalui middleman di JKT, Bandung, Surabaya dll.

Kini penerimaan para midleman besar di P Jawa itu kehilangan pasar. Demikian juga supermarket2 besar yg terbiasa menjual kpd para agen di masa lalu. Kini mereka juga dibatasi krn para produsen mulai menata jaringan distribusinya berkat infrastruktur yg bagus dan kedatangan kapal yg lebih rutin (kebijakan tol laut).

Itulah yg mereka keluhkan dengan “DAya beli turun”. In fact, pasar bergeser, pemerataan tengah terjadi walaupun blm sampai ke bawah sekali (kelompok prasejahtera), namun “kekayaan” kelompok mapan di P Jawa (khususnya para middleman) tengah tergerus.

Semoga kita bisa sedikit lebih jernih melihat. Bahwa pembangunan infrastruktur dan tol laut ini menimbulkan dampak shifting yg besar, namun dlm jangka panjang mudah2an baik bagi pemerataan kelas menengah. Tinggal tax policy utk menangani the plutocrats (kalangan superkaya yg jumlahnya sedikit tapi menguasai banyak).

Salam

Categorised in: